Pages

Subscribe:

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Pages

Ads 468x60px

Search This Blog

Featured Posts

Jumat, 07 September 2012

Antrean Truk Beli Solar Hingga 1,5 Kilometer

SRIPOKU.COM, LAHAT - Ratusan truk angkutan batubara, antre mengisi solar subsidi di SPBU Bandar Jaya, Kota Lahat. Antrean yang sudah berlangsung sejak pagi hari ini mengular lebih dari 1,5 Km hingga ke pertigaan tugu pahlawan di pintu masuk Kota Lahat. Penyebab antrean karena sedikitnya pasokan dari Pertamina yang diberikan kepada SPBU.

Pantauan Sripoku.com, Jumat (7/9/2012), truk angkutan batubara tersebut berjejer di tepi jalan disepanjang Jl RE Martadinata Kota Lahat. Kendaraan berukuran besar tersebut bak ular, karena sangat panjang untuk mengantre membeli solar di SPBU Bandar Jaya. Deretan kendaraan tersebut menjadi perhatian pengendara yang melintas, karena bagian ekor sudah berada di pertigaan pintu masuk Kota Lahat.

Beberapa sopir truk mengaku, sudah antre sejak pagi tadi. Namun hingga sore belum juga mendapatkan solar bersubsidi di SPBU Bandar Jaya karena persediaan yang ada sudah habis dibeli truk yang lebih dulu antre. Mereka terpaksa menunggu pasokan dari Pertamina datang, agar bisa mengisi bahan bakar.

"Sekarang kan sudah boleh isi solar bersubsidi. Tetapi persediaannya cepat habis, karena banyaknya truk yang antre," ujar Sigit (38).

Sore Ini SFC Tentukan Akhir Negosiasi Edward Wilson

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Sriwijaya FC memastikan proses negosiasi akhir bersama striker andalan asal Liberia Edward Junior Wilson pada Jumat (7/9/2012) sore ini. Direktur Keuangan SFC, Augie Bunyamin yang akan memutuskan prosesnya, apakah dia pasti bergabung untuk Laskar Wong Kito atau tidak.

"Nanti dealnya ada pada Pak Augie selaku Direktur Keuangan, karena begitu prosesnya. Edward adalah buruan utama kita, karena dia direkomendasikan pelatih dan bisa nyetel dengan skema tim," jelas Direktur Teknik dan SDM PT SOM, Hendri Zainuddin kepada Sripoku.com, Jumat (7/9/2012).

Disinggung mengenai SFC keberatan dengan nilai Rp 1,6 miliar yang diminta sang striker, Hendri menyatakan manajemen selalu bisa memenuhi nominal yang dimintakan, namun dalam proses transfer selalu ada negosiasi.

"Kita selalu siap dengan nominal yang ditawarkan, tetapi inilah proses negosiasi jadi selalu ada tahapannya," jelas Hendri.

Jika nanti proses negosiasi tidak mencapai kata sepakat, Hendri bersama tim pelatih selalu memiliki alternatif untuk striker lainnya.

"Hanya saja sejauh ini hanya Edward yang benar-benar cocok dengan skema tim," jelasnya.

Kas: SFC Kehilangan 6 Pemain Inti


Sriwijaya Post - Rabu, 5 September 2012 23:26 WIB
S
RIPOKU.COM, PALEMBANG - Pelatih Kas Hartadi mengakui harus memulai dari awal lagi. Perombakan skuad yang direncanakan hanya 15 persen itu menjadi 80 persen karena ada enam pemain inti yang pergi.

Tetapi dia tetap optimis SFC tidak akan kehilangan kerangka utama, karena masih ada lima pemain kunci yang kini tetap bertahan bersama Laskar Wong Kito.

"Tidak akan mempengaruhi skema tim, hanya saja kami harus kerja keras untuk menyiapkan tim terbaik," jelas pelatih Kas Hartadi, kepada Sripoku.com, Rabu (5/9/2012).

Seperti diketahui, SFC tidak memperpanjang kontrak striker asing Kayamba dan Hilton Moreira karena tidak menemui kata sepakat soal nilai kontrak.

Kemudian tiga pemain lokal M Ridwan, Firman Utina, Supardi memilih hengkang ke Persib Bandung.

Sementara satu lagi pemain asal Australia Jamie Coyne memang tidak diperpanjang kontraknya lantaran manajemen tidak puas dengan performa bek berbadan tinggi besar itu.

Sementara itu sisa pemain inti, Ponaryo Astaman, Lim Joon Sik, Thierry Gathuessi, Mahyadi Panggabean, dan Ahmad Jufriyanto.

Sedangkan pemain yang baru masuk ada tiga yakni Kazuo Homma (striker), Abdul Rahman (defender), dan Facharudin (winger). "Kerja keras dan saya yakin pada awal musim, SFC sudah mencapai top performa," tegas Kas.

Amunisi Baru SFC


Sriwijaya Post - Jumat, 7 September 2012 09:42 WIB
AKHIRNYA pasokan lini depan Sriwijaya FC bertambah satu lagi setelah striker lokal, Tantan menyatakan kesediaannya untuk memperkuat Laskar Wong Kito pada musim 2012/2013 nanti.

Dia menjadi angin segar bagi Sriwijaya dan sebagai amunisi baru, setelah manajemen belum menemukan pengganti yang sepadan buat Keith Kayamba Gumbs dan Hilton Moreira yang tidak diperpanjang kontraknya.

Direktur Teknik dan SDM SFC, Hendri Zainuddin, Kamis (6/9) mengakui, sudah deal secara lisan dengan mantan pemain Persitara Jakarta Utara ini. Baru setelah itu, penandatanganan kontrak akan dilakukan ketika pemain yang bersangkutan sudah tiba di Palembang.

Pemain usia 30 tahun ini, dikontrak selama satu musim dengan nominal harga yang dirahasiakan manajemen.

“Pastinya kita ambil Tantan ini dengan harga yang cukup murah dan tidak terlalu membebani keuangan tim, tetapi memiliki kualitas,” katanya ketika dihubungi Sripo, Kamis (6/9).

Dikatakannya, manajemen SFC memang sejak lama mengincar Tantan untuk menggantikan peran dari striker Risky Novriansyah yang tidak diperpanjang kontraknya.

Selain sudah deal dengan Tantan, manajemen pun sudah berhasil mengajak pemain lokal lainnya, Sultan Samma yang sebelumnya memperkuat Persiba Balikpapan. Dengan masuknya kedua pemain ini, diharapkan skuad SFC musim depan akan semakin komplit dan tidak akan kalah bersaing dengan klub-klub lainya.

“Kita optimis bisa mempertahankan gelar juara, meski bisa dikatakan pada musim ini kita benar-benar membentuk tim baru. Target awal, keinginan manajemen yang berharap mempertahankan 85 persen pemain ternyata terjadi kebalikannya dengan banyaknya pemain yang hengkang,” ucap anggota DPRD Banyuasin ini.

Namun, dia tetap yakin tim ideal tetap terbentuk, karena sejauh ini beberapa pemain sudah dalam tahap deal dari sejumlah proses negosiasi.

“Namun kita tetap yakin dengan tim yang sudah hampir terbentuk ini. Tinggal lagi kita mencari striker untuk menggantikan Kayamba, dengan mengincar Edwar (Jonior Wilson). Sementara untuk pengganti Hilton, kita tingggal menunggu kabar dari Eko Subekti (Agent pemain), yang akan mengabari apakah Ericks (Weeks Lewis) pasti mau bergabung dengan SFC atau tidak,” sambung Hendri.

Sementara itu, Pelatih Kepala SFC, Kas Hartadi menyambut gembira kabar dari manajemen yang menyatakan bahwa, Tantan sudah deal dengan SFC. Baginya, Tantan ini sangat cocok untuk menggantikan peran Risky, apalagi tipe permainannya terbilang ngotot dan tidak mudah menyerah.

Tipe striker seperti Tantan bahkan sangat cocok untuk merusak konsentrasi lawan, sebab pergerakannya pun sangat sulit ditebak. Dia diyakini bisa beradaptasi dengan skema andalan 4-3-3 yang selama ini diterapkan oleh Kas Hartadi dan Hartono Ruslan.

“Saya sudah cukup sering lihat permainan Tantan di televisi dan sangat baik. Dia orangnya mau bekerja keras dan punya potensi untuk berkembang lebih baik lagi,” ulas pelatih asal Solo ini. (cw2)

Sabtu, 04 Agustus 2012

Cinta yang ihsan

Cinta di antara dua manusia yang ihsan



Laki-laki itu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah Islam itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Islam adalah kamu tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, mendirikan shalat, membayar zakat, dan berpuasa Ramadlan.’ Dia berkata, ‘Kamu benar.’ Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah iman itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, beriman kepada kejadian pertemuan dengan-Nya, beriman kepada para Rasul-Nya, dan kamu beriman kepada hari kebangkitan serta beriman kepada takdir semuanya’. Dia berkata, ‘Kamu benar’. Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya (bermakrifat), maka jika kamu tidak melihat-Nya (bermakrifat) maka sesungguhnya Dia melihatmu. (HR Muslim 11)

Agama Islam terdiri dari 3 pokok sebagaimana yang disampaikan oleh malaikat Jibril a.s yang kita ketahui dari hadits di atas yakni tentang Iman , tentang Islam dan tentang Ihsan

Tentang Iman atau aqidah, kita dapat temui pada ushuluddin atau i’tiqod
Tentang Islam atau syariat atau hukum-hukum dalam Islam, kita dapat temui pada fiqih
Tentang Ihsan atau akhlak, kita dapat temui pada tasawuf

Kami salinkan kembali dari hadits di atas yang merupakan landasan pokok tentang Ihsan atau tasawuf yakni

Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya (bermakrifat), maka jika kamu tidak melihat-Nya (bermakrifat) maka sesungguhnya Dia melihatmu“. (HR Muslim 11).

Cinta di antara dua manusia yang telah ihsan adalah dikarenakan seakan-akan kamu melihat-Nya (bermakrifat) atau minimal dikarenakan selalu yakin di dalam pengawasan Allah Azza wa Jalla.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

سبعة يظلهم الله في ظله يوم لا طل إلا ظله: الإمام العادل، مشاب نشأ في عبادة ربه، ورجل قلبه معلق با لمساجد، ورجلان تحابا في الله، اجتمعا عليه وتفرقا عليه، ورجل طلبته امرأة ذات منصب وجمال فقال: إني أخاف الله، ورجل تصدق أخف حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه، ورجلذكر الله خاليا ففاضت عيناه.

“Tujuh golongan yang akan dinaungi Allah pada hari yang tiada naungan selainNya :

(1). Seorang imam yang adil.
(2). Seorang pemuda yang menghabiskan masa mudanya dengan beribadah kepada Rabbnya.
(3). Seorang yang hatinya selalu terkait dengan masjid.
(4) Dua orang yang saling mencintai karena Allah ; berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah.
(5) Laki-laki yang diajak oleh seorang wanita yang tepandang dan dan cantik untuk berzina lantas ia berkata : “Sesungguhnya aku takut kepada Allah.”
(6) Seorang yang menyembunyikan sedekahnya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.
(7). Seorang yang berdzikir kepada Allah dengan menepi seorang diri hingga bercucuran air matanya.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

من سره أن يجد حلاوة الإيمان فليحب المرء لا يحبه إلا لله عز وجل.

“Barangsiapa yang ingin meraih kelezatan iman hendaklah ia mencintai seseorang hanya karena Allah.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

من أحب لله وأبغض لله وأعطى لله ومنع لله فقد استكمل الإيمان.

“Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan menahan (tidak memberi) karena Allah. Sungguh ia telah menyempurnakan keimanan.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

إذا أحب أحدكم أخاه فى الله، فليعلمه، فإنه أبقى في الألفة وأثبت في المودة.

“Apabila salah seorang dari kamu mencintai saudaranya karena Allah hendaklah ia memberitahu kepadanya, karena hal itu dapat melanggengkan kasih sayang dan memperkuat rasa cinta.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

تهادوا تحابوا.

“Hendaklah kalian saling memberi, niscaya kalian akan saling menyayangi”.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda dalam sebuah riwayat dari Rabbnya :

قال الله تعالى: حقت محبتي للمتحابين في.

“Allah berfirman : “Cinta-Ku telah ditetapkan bagi siapa saja yang saling mencintai karena Aku”.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

إن الله يقول يوم القيامة: أين المتحابون بجلالي اليوم أظلهم في ظلي يوم لا طل إلا طلي.

“Sesungguhnya Allah akan bertanya nanti pada hari Kiamat : “Dimanakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan menaungi mereka di bawah naungan-Ku yang tiada yang tiada naungan kecuali naungan-Ku.”



Wassalam

Perantaraan yang dimuliakanNya

Berdoa dengan perantaraan yang dimuliakanNya


Firman Allah ta’ala,

alaa lillaahi alddiinu alkhaalishu waalladziina ittakhadzuu min duunihi awliyaa-a maa na’buduhum illaa liyuqarribuunaa ilaa allaahi zulfaa inna allaaha yahkumu baynahum fii maa hum fiihi yakhtalifuuna inna allaaha laa yahdii man huwa kaadzibun kaffaarun

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar” (QS Az Zumar [39]: 3 )

Sebagian orang menyalahgunakan firman Allah ta’ala ini untuk mensesatkan atau bahkan mengkafirkan kaum muslim yang berdoa dengan bertawassul dengan orang sholeh yang sudah wafat.

Padahal “maa na’buduhum illaa liyuqarribuunaa ilaa allaahi” (QS Az Zumar [39]:3]) menjelaskan bahwa mereka menyembah selain Allah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Juga ditegaskan dalam ayat tersebut bahwa mereka adalah orang-orang pendusta dengan kata lain apa yang mereka katakan “mendekatkan diri kepada Allah” adalah dusta belaka

Sedang orang yang bertawassul dengan orang sholeh yang sudah wafat sama sekali tidak menyembahnya. Tetapi ia mengetahui bahwa orang sholeh itu memiliki kemuliaan di sisi Allah lalu ia bertawassul dengannya karena dimuliakanNya.

Berdoa dengan bertawassul adalah perintahNya

Firman Allah ta’ala yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (washilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan” (QS Al Maa’idah [5]: 35 )”

Bertawassul adalah adab berdoa, berperantara pada kemuliaan seseorang, kemuliaan tempat, kemuliaan benda , kemuliaan waktu, kemulian doa atau dzikrullah dihadapan Allah Azza wa Jalla

Boleh berperantara pada kemuliaan seseorang baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat karena kemuliaan seseorang di hadapan Allah tak akan sirna walaupun mereka sudah wafat. Terlebih lagi mereka yang meraih kemuliaan disisiNya tetap hidup sebagaimana para Syuhada

Firman Allah ta’ala yang artinya
”Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada), (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS Al Baqarah [2]: 154 )

”Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada) itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.” (QS Ali Imran [3]: 169)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

حياتي خير لكم ومماتي خير لكم تحدثون ويحدث لكم , تعرض أعمالكم عليّ فإن وجدت خيرا حمدت الله و إن وجدت شرا استغفرت الله لكم.

“Hidupku lebih baik buat kalian dan matiku lebih baik buat kalian. Kalian bercakap-cakap dan mendengarkan percakapan. Amal perbuatan kalian disampaikan kepadaku. Jika aku menemukan kebaikan maka aku memuji Allah. Namun jika menemukan keburukan aku memohonkan ampunan kepada Allah buat kalian.” (Hadits ini diriwayatkan oelh Al Hafidh Isma’il al Qaadli pada Juz’u al Shalaati ‘ala al Nabiyi Shallalahu alaihi wasallam. Al Haitsami menyebutkannya dalam Majma’u al Zawaaid dan mengkategorikannya sebagai hadits shahih dengan komentarnya : hadits diriwayatkan oleh Al Bazzaar dan para perawinya sesuai dengan kriteria hadits shahih)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إن أعمالكم تعرض على أقاربكم وعشائركم من الأموات فإن كان خيرا استبشروا، وإن كان غير ذلك قالوا: اللهم لا تمتهم حتى تهديهم كما هديتنا)

“Sesungguhnya perbuatan kalian diperlihatkan kepada karib-kerabat dan keluarga kalian yang telah meninggal dunia. Jika perbuatan kalian baik, maka mereka mendapatkan kabar gembira, namun jika selain daripada itu, maka mereka berkata: “Ya Allah, janganlah engkau matikan mereka sampai Engkau memberikan hidayah kepada mereka seperti engkau memberikan hidayah kepada kami.” (HR. Ahmad dalam musnadnya).

Justru mereka yang membedakan bolehnya bertawassul pada yang hidup saja dan mengharamkan pada yang sudah wafat, maka mereka itu malah dirisaukan akan terjerumus pada kemusyrikan karena menganggap makhluk hidup bisa memberi manfaat, sedangkan akidah kita adalah semua yang hidup dan yang sudah wafat tak bisa memberi manfaat apa apa kecuali karena Allah ta’ala memuliakannya, bukan karena ia hidup lalu ia bisa memberi manfaat dihadapan Allah, berarti si hidup itu sebanding dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala?, si hidup bisa berbuat sesuatu pada keputusan Allah ?

Orang yang bertawassul tidak boleh berkeyakinan bahwa perantaranya kepada Allah bisa memberi manfaat dan madlorot kepadanya dan jika ia berkeyakinan bahwa sesuatu yang dijadikan perantaraan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala itu bisa memberi manfaat dan madlorot, maka dia telah melakukan perbuatan syirik, karena yang bisa memberi manfaat dan madlorot sesungguhnya hanyalah Allah semata.

Bertawassul adalah adab berdoa , salah satu usaha agar do’a yang kita panjatkan diterima dan dikabulkan Allah Subhanahu wa ta’ala

Bertawassul dengan kemulian orang yang sudah wafat, sebagaimana yang tercantum dalam Tafsir Ibnu Katsir surat An-nisa ayat 64, http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2011/09/ikjuz5p281_285.pdf

**** awal kutipan ****
Al-Atabi ra menceritakan bahwa ketika ia sedang duduk di dekat kubur Nabi Shallallahu alaihi wasallam, datanglah seorang Arab Badui, lalu ia mengucapkan,

“Assalamu’alaika, ya Rasulullah (semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu, wahai Rasulullah). Aku telah mendengar Allah ta’ala berfirman yang artinya, ‘Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka menjumpai Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang‘ (QS An-Nisa: 64),

Sekarang aku datang kepadamu, memohon ampun bagi dosa-dosaku (kepada Allah) dan meminta syafaat kepadamu (agar engkau memohonkan ampunan bagiku) kepada Tuhanku.”

Kemudian lelaki Badui tersebut mengucapkan syair berikut , yaitu:
“Hai sebaik-baik orang yang dikebumikan di lembah ini lagi paling agung, maka menjadi harumlah dari pancaran keharumannya semua lembah dan pegunungan ini. Diriku sebagai tebusan kubur yang engkau menjadi penghuninya; di dalamnya terdapat kehormatan, kedermawanan, dan kemuliaan.“

Kemudian lelaki Badui itu pergi, dan dengan serta-merta mataku terasa mengantuk sekali hingga tertidur.

Dalam tidurku itu aku bermimpi bersua dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam., lalu beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Hai Atabi, susullah orang Badui itu dan sampaikanlah berita gembira kepadanya bahwa Allah telah memberikan ampunan kepadanya!”
***** akhir kutipan *****

Bertawassul dengan kemulian tempat seperti berdoa di Multazam, Raudoh, Maqam Ibrahim dll

Bertawassul dengan waktu seperti berdoa pada sepertiga malam terakhir, berdoa ketika wukuf di pada Arafah, dll

Bertawassul dengan kemuliaan benda seperti berdoa memohon kesembuhan kepada Allah dengan perantaraan ludah orang-orang yang mulia disisi Allah

Telah menceritakan kepadaku Shadaqah bin Al Fadl telah mengabarkan kepada kami Ibnu ‘Uyainah dari ‘Abdurrabbihi bin Sa’id dari ‘Amrah dari ‘Aisyah dia berkata; Biasanya dalam meruqyah, beliau membaca: BISMILLAHI TURBATU ARDLINA BI RIIQATI BA’DLINA YUSYFAA SAQIIMUNA BI IDZNI RABBINA (Dengan nama Allah, Debu tanah kami dengan ludah sebagian kami semoga sembuh orang yang sakit dari kami dengan izin Rabb kami. (HR Bukhari 5305)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb serta Ibnu Abu ‘Umar dan lafazh ini miliknya Ibnu Abu ‘Umar dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Abdu Rabbih bin Sa’id dari ‘Amrah dari ‘Aisyah bahwa apabila seseorang mengadukan suatu penyakit yang dideritanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti sakit kudis, atau luka, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berucap sambil menggerakkan anak jarinya seperti ini -Sufyan meletakkan telunjuknya ke tanah, kemudian mengangkatnya- Bismillahi turbatu ardhina biriiqati ba’dhina liyusyfaa bihi saqiimuna bi idzni rabbina. (Dengan nama Allah, dengan debu di bumi kami, dan dengan ludah sebagian kami, semoga sembuhlah penyakit kami dengan izin Rabb kami). Ibnu Abu Syaibah berkata; ruqyah tersebut berbunyi; Yusyfaa saqiimunaa’. Dan Zuhair berkata; Doa ruqyah tersebut berbunyi; Liyusyfaa saqiimunaa.’ (HR Muslim 4069)

Yang dimaksud ludah sebagian kami adalah ludah hambaNya yang disisiNya

Bertawassul dengan kemuliaan doa atau dzikrullah seperti berdoa memohon kesembuhan kepada Allah dengan perantaraan bacaan surat Al Fatihah

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya At Tamimi; Telah mengabarkan kepada kami Husyaim dari Abu Bisyr dari Abu Al Mutawakkil dari Abu Sa’id Al Khudri bahwa beberapa orang sahabat melakukan perjalanan jauh dan berhenti untuk istirahat pada salah satu perkampungan ‘Arab, lalu mereka minta dijamu oleh penduduk kampung itu. Tetapi penduduk enggan menjamu mereka. Penduduk bertanya kepada para sahabat; ‘Adakah di antara tuan-tuan yang pandai mantera? Kepala kampung kami digigit serangga.’ Menjawab seorang sahabat; ‘Ya, ada! Kemudian dia mendatangi kepala kampung itu dan memanterainya dengan membaca surat Al Fatihah. Maka kepala kampung itu pun sembuh. Kemudian dia diberi upah kurang lebih tiga puluh ekor kambing. Tetapi dia enggan menerima seraya mengatakan; ‘Tunggu! Aku akan menanyakannya lebih dahulu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah aku boleh menerimanya.’ Lalu dia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menanyakannya hal itu, katanya; ‘Ya, Rasulullah! Demi Allah, aku telah memanterai seseorang dengan membacakan surat Al Fatihah.’ Beliau tersenyum mendengar cerita sahabatnya dan bertanya: ‘Bagaimana engkau tahu Al Fatihah itu mantera? ‘ Kemudian sabda beliau pula: ‘Terimalah pemberian mereka itu, dan berilah aku bagian bersama-sama denganmu.’ Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar dan Abu Bakr bin Nafi’ keduanya dari Ghundar Muhammad bin Ja’far dari Syu’bah dari Abu Bisyr melalui jalur ini, dia menyebutkan di dalam Haditsnya; ‘Kemudian orang itu mulai membacakan Ummul Qur’an, dan mengumpulkan ludahnya lalu memuntahkannya, setelah itu orang itu sembuh. (HR Muslim 4080)

Berdoa dengan bertawassul perantaraan sholawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam

Anas bin Malik r.a meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tiada doa kecuali terdapat hijab di antaranya dengan di antara langit, hingga bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka apabila dibacakan shalawat Nabi, terbukalah hijab dan diterimalah doa tersebut, namun jika tidak demikian, kembalilah doa itu kepada pemohonnya“

Rasulullah bersabda “Jika salah seorang di antara kalian berdoa maka hendaknya dia memulainya dengan memuji dan menyanjung Allah, kemudian dia bershalawat kepada Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, kemudian setelah itu baru dia berdoa sesukanya.” (HR Ahmad, Abu Dawud dan dishahihkan oleh At Tirmidzi)

Mereka bertanya kenapa kita harus bertawasul dalam berdoa sedangkan kita dijanjikan oleh Allah Azza wa Jalla akan mengabulkan segala permohonan hambaNya sebagaimana firmanNya yang artinya, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS Al Baqarah [2]:186 )

Kadang kita dalam memahami ayat di atas mengambil hanya sebagaian dari ayat itu yakni “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku“. Sehingga sebagian muslim, ketika selesai berdoa, seolah-olah “menagih janji” Allah Subhanahu wa Ta’ala berdasarkan apa yang dipahaminya itu.

Padahal dalam ayat itu juga telah dijelaskan jalan/cara/syarat agar Allah ar Rahmaan ar Rahiim mengabulkan doa hambaNya pada kalimat berikutnya “maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” maknanya doa akan terkabul tergantung kedekatan kita kepada Allah Azza wa Jalla atau tergantung kadar ketaatan kepada Allah dan RasulNya.

Seorang Muslim yang dikatakan telah mentaati Allah dan RasulNya sehingga mendapatkan maqom disisiNya adalah 4 golongan manusia sebagaimana firmanNya yang artinya “Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69 )

Maqom Shiddiqin atau kedekatan dengan Allah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/09/2011/09/28/maqom-wali-allah/

Semakin dekat kita kepada Allah bahkan sampai menjadi kekasihNya (Wali Allah) maka Allah telah menjanjikan pasti akan mengabulkan segala permintaan

Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah bersabda, Allah ta’ala berfirman “jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-KU, pasti Ku-lindungi. Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya” (HR Bukhari 6021)

Contohnya bagaimana Sayyidina Umar bin Khathab ra yang kita tahu setingkat beliau tentu bisa berdoa langsung kepada Allah ta’ala , namun beliau menjadikan Uwais ra seorang Tabi’in menjadi perantara bagi doanya kepada Allah Azza wa Jalla mengikuti pesan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Suatu hari Umar r.a. kedatangan rombongan dari Yaman, lalu ia bertanya :
“Adakah di antara kalian yang datang dari suku Qarn?”.
Lalu seorang maju ke dapan menghadap Umar. Orang tersebut saling bertatap pandang sejenak dengan Umar. Umar pun memperhatikannya dengan penuh selidik.
“Siapa namamu?” tanya Umar.
“Aku Uwais”, jawabnya datar.
“Apakah engkau hanya mempunyai seorang Ibu yang masih hidup?, tanya Umar lagi.
“Benar, Amirul Mu’minin”, jawab Uwais tegas.
Umar masih penasaran lalu bertanya kembali “Apakah engkau mempunyai bercak putih sebesar uang dirham?” (maksudnya penyakit kulit berwarna putih seperti panu tapi tidak hilang).
“Benar, Amirul Mu’minin, dulu aku terkena penyakit kulit “belang”, lalu aku berdo’a kepada Allah agar disembuhkan. Alhamdulillah, Allah memberiku kesembuhan kecuali sebesar uang dirham di dekat pusarku yang masih tersisa, itu untuk mengingatkanku kepada Tuhanku”.
“Mintakan aku ampunan kepada Allah”.
Uwais terperanjat mendengar permintaan Umar tersebut, sambil berkata dengan penuh keheranan. “Wahai Amirul Mu’minin, engkau justru yang lebih behak memintakan kami ampunan kepada Allah, bukankah engkau sahabat Nabi?”
Lalu Umar berkata “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata “Sesungguhnya sebaik-baik Tabiin adalah seorang bernama Uwais, mempunyai seorang ibu yang selalu dipatuhinya, pernah sakit belang dan disembuhkan Allah kecuali sebesar uang dinar di dekat pusarnya, apabila ia bersumpah pasti dikabulkan Allah. Bila kalian menemuinya mintalah kepadanya agar ia memintakan ampunan kepada Allah”
Uwais lalu mendoa’kan Umar agar diberi ampunan Allah. Lalu Uwais pun menghilang dalam kerumunan rombongan dari Yaman yang akan melanjutkan perjalanan ke Kufah. (HR Ahmad)

Hadits senada diriwayatkan oleh Imam Muslim

Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb; Telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Al Qasim; Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Al Mughirah; Telah menceritakan kepadaku Sa’id Al Jurairi dari Abu Nadhrah dari Usair bin Jabir bahwa penduduk Kufah mengutus beberapa utusan kepada Umar bin Khaththab, dan di antara mereka ada seseorang yang biasa mencela Uwais. Maka Umar berkata; Apakah di sini ada yang berasal dari Qaran. Lalu orang itu menghadap Umar. Kemudian Umar berkata: ‘Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: Sesungguhnya akan datang kepadamu seorang laki-laki dari Yaman yang biasa dipanggil dengan Uwais. Dia tinggal di Yaman bersama Ibunya. Dahulu pada kulitnya ada penyakit belang (berwarna putih). Lalu dia berdo’a kepada Allah, dan Allahpun menghilangkan penyakit itu, kecuali tinggal sebesar uang dinar atau dirham saja. Barang siapa di antara kalian yang menemuinya, maka mintalah kepadanya untuk memohonkan ampun kepada Allah untuk kalian. Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Muhammad bin Al Mutsanna keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami ‘Affan bin Muslim; Telah menceritakan kepada kami Hammad yaitu Ibnu Salamah dari Sa’id Al Jurairi melalui jalur ini dari ‘Umar bin Al Khaththab dia berkata; Sungguh aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sebaik-baik tabi’in, adalah seorang laki-laki yang dibiasa dipanggil Uwais, dia memiliki ibu, dan dulu dia memiliki penyakit belang ditubuhnya. Carilah ia, dan mintalah kepadanya agar memohonkan ampun untuk kalian.’ (HR Muslim 4612)

Wassalam

Sikap atsarah

Kalian akan jumpai sikap atsarah



Kami tidaklah membela kebathilan atau mempermainkan hadits, apalagi menyembah Basyar Al Assad, penguasa negeri Suriah , ~Naudzubillah minzalik

Kami hanya mempertanyakan bagaimana kalau penguasa negeri Suriah berpegang pada hadits-hadits berikut

Dari Abu Said al Khudriy bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,”Apabila ada baiat kepada dua orang khalifah maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.” (HR. Ahmad).”

Dan telah menceritakan kepadaku Wahb bin Baqiyah Al Wasithi telah menceritakan kepada kami Khalid bin Abdullah dari Al Jurairi dari Abu Nadlrah dari Abu Sa’id Al Khudri dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila ada dua khalifah yang dibaiat, maka bunuhlah yang paling terakhir dari keduanya.” (HR Muslim 3444)

Dan telah menceritakan kepadaku Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Yunus bin Abu Ya’fur dari ayahnya dari ‘Arfajah dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bila datang kepadamu seseorang yang hendak mematahkan tongkatmu (memecah belah jama’ah) atau memecah belah persatuan kalian, maka bunuhlah dia (HR Muslim 3433)

Begitupula kalau kita mau melihat sejarah bahwa ketika Muawiyah ra memberontak, kekhalifahan Islam terbagi dua : satu dipimpin Sayyidina Ali ra, lainnya dibawah Muawiyah. Muawiyah adalah famili Khalifah Usman bin Affan ra, yang sebelumnya menjabat gubernur Damaskus. Ia, sebagaimana keluarga Sayyidina Utsman yang lain, mencurigai Sayyidina Ali terlibat komplotan pembunuh Khalifah Ustman.

Ketika Imam Sayyidina Ali ra syahid terbunuh, terbukalah peluang bagi Muawiyah untuk menuju jenjang kekuasaan. Demi keutuhan umat islam, Sayyidina Hasan ra yang menggantikan ayahandanya, berkompromi atau lebih tepat mengalah, dengan menyerahkan kekuasaan kepada kepada Muawiyah. Tapi belakangan Imam Hasan ra justru diracun hingga wafat pada tahun 50 H / 630 M; beliau meninggal setelah diracun istrinya sendiri, Ja’dah binti Al-As’as, atas hasutan kelompok Muawiyah, dengan janji akan mendapat hadiah 100.000 dirham. Ketika itulah banyak kalangan mendesak Sayyidina Husein ra agar memberontak terhadap Khalifah Muawiyah. Tapi, beliau hanya menjawab pendek, “selama Muawiyah masih hidup, tak ada yang bisa diperbuat, karena begitu kuatnya khalifah itu.”

Bagaimana kesabaran rakyat Suriah mentaati sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam menghadapi penguasa negeri Suriah sebagaimana hadits-hadits

Dari Ummu Salamah radliyallahu ‘anha berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “Akan terjadi sesudahku para penguasa yang kalian mengenalinya dan kalian mengingkarinya. Barangsiapa yang mengingkarinya maka sungguh ia telah berlepas diri. Akan tetapi siapa saja yang ridha dan terus mengikutinya (dialah yang berdosa, pent.).” Maka para shahabat berkata : “Apakah tidak kita perangi saja mereka dengan pedang?” Beliau menjawab : “Jangan, selama mereka menegakkan shalat bersama kalian.” (HR. Muslim 3446).

Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim Al Handlali telah mengabarkan kepada kami Isa bin Yunus telah menceritakan kepada kami Al Auza’i dari Yazid bin Yazid bin Jabir dari Ruzaiq bin Hayyan dari Muslim bin Qaradlah dari ‘Auf bin Malik dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendo’akan kalian dan kalian mendo’akan mereka. Dan sejelek-jelek pemimpin kalian adalah mereka yang membenci kalian dan kalian membenci mereka, mereka mengutuk kalian dan kalian mengutuk mereka. Beliau ditanya, Wahai Rasulullah, tidakkah kita memerangi mereka? maka beliau bersabda: Tidak, selagi mereka mendirikan shalat bersama kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang tidak baik maka bencilah tindakannya, dan janganlah kalian melepas dari ketaatan kepada mereka. (HR Muslim 3447)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Muhammad bin Basyar keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Simak bin Harb dari ‘Alqamah bin Al Wa`il Al Hadlrami dari ayahnya dia berkata, Salamah bin Yazid Al Ja’fi pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Wahai Nabi Allah, bagaimanakah pendapatmu jika para penguasa yang memimpin kami selalu menuntut hak mereka atas kami tapi mereka tidak mau memenuhi hak kami, sikap apa yang anda anjurkan kepada kami? Maka beliau berpaling, lalu ditanyakan lagi kepada beliau dan beliaupun tetap enggan menjawabnya hingga dua atau tiga kali pertanyaan itu diajukan kepada beliau, kemudian Al Aty’ats bin Qa`is menarik Salamah bin Zayid. Beliau lalu bersabda: Dengarkan dan taatilah, sesungguhnya mereka akan mempertanggung jawabkan atas semua perbuatan mereka sebagaimana kalian juga akan mempertanggung jawabkan semua perbuatan kalian. (HR Muslim 3433)

Begitupula kalau kita mau ambil pelajaran ketika Mu’awiyah ra yang sempat bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan merupakan salah satu penulis wahyu, menetapkan khalifah penggantinya yaitu Yazid anaknya sendiri.

Umat Islam ketika itu telah bersentuhan dengan peradaban Persia dan Bizantium. Oleh karena itu, Muawiyyah juga bermaksud meniru suksesi kepemimpinan yang ada di Persia dan Bizantium, yaitu Monarki (kerajaan).

Akan tetapi, gelar pemimpin pusat tidak di sebut raja (malik), mereka tetap menggunakan gelar khalifah dengan makna konotatif yang di perbaharui.

Pada zaman khalifah empat, khalifah (pengganti) yang dimaksudkan adalah khalifah Rasul shalllallahu alaihi wasallam sebagai pemimpin masyarakat

Langkah awal dalam rangka memperlancar pengankat Yazid sebagai penggantinya adalah menjadikan Yaizid Ibn Muawiyyah sebagi putra mahkota (tahun 53 H).

Penunjukkan Yazid sebagai putra mahkota telah melahirkan reaksi dari masyrakat. Proses terjadi dimasyarakat karena Muawiyyah telah mengubah sistem suksesi peminpin; di samping itu, pengangkatan Yazid sebagai pengganti Muawiyyah berarti telah terjadi pelanggaran perjanjian antara Muawiyyah dengan Hasan Ibn Ali ra.

Ketika Yazid naik tahta, sejumlah tokoh terkemuka di Madinah menolak melakukan bai’at. Akan tetapi, Muawiyyah berhasil memaksa mereka untuk melakukan bai’at. Dua tokoh yang tidak berhasil dipaksa melakukan bai’at adalah Husain Ibn Ali dan Abd Allah Ibn Zuabair.

Ketika Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam akan wafat, Nabi tidak berwasiat apa-apa, baik kepada salah seorang karib, atau kepada sahabat-sahabat yang lain, tentang siapa yang akan jadi Khalifah pengganti Nabi. Persoalan yang besar ini beliau serahkan kepada musyawarah ummat Islam.

Namun Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ada pernah mewasiatkan yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra: “Barangsiapa memilih seseorang menjadi pemimpin untuk suatu kelompok, yang di kelompok itu ada orang yang lebih diridhai Allah dari pada orang tersebut, maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.” (HR. Hakim)

Setelah Nabi wafat, berkumpullah orang Muhajirin dan Anshar di Madinah, guna bermusyawarah siapa yang akan dibaiat (diakui) jadi Khalifah. Orang Anshar menghendaki agar Khalifah itu dipilih dari golongan mereka, mereka mengajukan Sa’ad bin Ubadah. Kehendak orang Anshar ini tidak disetujui oleh orang Muhajirin. Maka terjadilah perdebatan diantara keduanya, dan hampir terjadi fitnah diantara keduanya.

Abu Bakar segera berdiri dan berpidato menyatakan dengan alasan yang kuat dan tepat, bahwa soal Khalifah itu adalah hak bagi kaum Quraisy, bahwa kaum Muhajirin telah lebih dahulu masuk Islam, mereka lebih lama bersama bersama Rasulullah, dalam Al-Qur’an selalu didahulukan Muhajirin kemudian Anshar.

Khutbah Abu Bakar ini dikenal dengan Khutbah Hari Tsaqifah, setelah khutbah ini ummat Islam serta merta membai’at Abu Bakar, didahului oleh Umar bin Khattab, kemudian diikuti oleh para sahabat yang lain.

Adapun Abu Bakar Siddiq adalah sahabat nabi yang tertua yang amat luas pengalamannya dan amat besar ghirahnya kepada agama Islam. Dia adalah seorang bangsawan Quraisy, berkedudukan tinggi dalam kaumnya, hartawan dan dermawan. Jabatannya dikala Nabi masih hidup, selain dari seorang saudagar yang kaya, diapun seorang ahli nasab Arab dan ahli hukum yang jujur. Dialah yang menemani Nabi ketika hijrah dari Makkah ke Madinah. Dia telah merasakan pahit getirnya hidup bersama Rasulullah sampai kepada hari wafat beliau. Dialah yang diserahi nabi menjadi imam sembahyang ketika beliau sakit. Oleh karena itu, ummat Islam memandang dia lebih berhak dan utama menjadi Khalifah dari yang lainnya.

Jelaslah apa yang telah dicontohkan oleh para Sahabat bahwa pemilihan berdasarkan permusyawarahan dan diwakili oleh orang-orang berkompeten untuk memilih atau yang disebut ahlu a-halli wa al-‘aqdi

Begitu pula yang dimaksud oleh ulama-ulama kita dahulu yang ikut mendirikan negara kita dalam menetapkan sila ke 4 dari Pancasila yakni “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan”. Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang berkompeten dan dipercayai untuk melaksanakan musyawarah untuk suatu mufakat. Namun dalam perkembangannya di negara kita, orang-orang kemudian merubahnya menjadi demokrasi sebebas-bebasnya, tidak ada bedanya antara pemilih yang jahat dengan pemilih yang baik, (semua satu suara) dalam menetapkan Presiden dan Wakil presiden, Kepala Pemerintahan Daerah seperti Gubernur dan Bupati.

Firmah Allah ta’ala yang artinya,

” Wahai orang-orang beriman taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rosul-Nya dan ulil amri di antara kamu ” (QS An Nisa’ : 59 )

Seluruh pemimpin jama’atul minal muslimin yang ada dalam suatu negara/wilayah/pemerintahan kemudian membentuk ahlul halli wal ‘aqdi atau perwakilan tingkat negara/wilayah/pemerintahan yang menunjuk seorang pemimpin sebagai pemimpin negara/wilayah/pemerintahan atau penguasa atau yang kita kenal sebagai umara.

Dalam penunjukkan pemimpin tidak berdasarkan ras, suku bangsa, kaum, atau keturunan namun berdasarkan ketaatan kepada Allah dan RasulNya serta kompetensi kepemimpinan negara sebagaiman yang ditauladankan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

Sedangkan pada kaum Syiah, pemimpin mesti dari keturunan Fatimah, baik dari garis keturunan Hasan ataupun Husein. Syi’ah Imamiyah dan Syi’ah Isma’ilyah hanya mengakui pemimpin yang berasal dari garis keturunan Husein saja. Oleh karena itu pemimpin negara yang berasal dari keturunan Hasan tidak sah bagi keduanya. Tentunya ini masalah yang pelik dalam pemikiran politik Syi’ah, sehingga menjadi sengketa dan perseteruan utama antara mereka untuk merebut kekuasaan, dengan cara saling memfasikkan dan mengkafirkan satu sama lain hanya karena perbedaan garis keturunan ini.

Namun pada kenyataannya, yang memotivasi Syi’ah Imamiyah dan Isma’iliyah untuk membatasi kelayakan pimpinan dari garis keturunan Husein saja disebabkan karena Imam Hasan mengundurkan diri dari suksesi yang terjadi antara dia dengan Muawiyah bin Abu Sufyan. Dalam sukesesi tersebut, Imam Hasan menyerahkan bulat-bulat tongkat kepemimpinan kepada Muawiyah bin Abu Sufyan tanpa dilakukan pemilihan. Karena peristiwa inilah yang menjadikan Syi’ah Imamiyah dan Syi’ah Isma’iliyah tidak memberikan kesempatan kepada garis keturunan Imam Hasan untuk menjadi pemimpin. Dan dengan peristiwa ini pulalah Syi’ah Isma’ilyah memunculkan teori politik baru yang tidak dikenal sebelumnya oleh aliran Syi’ah lain, yaitu: Imam tetap (al-Imam al-Mustaqir) dan Imam sementara (al-Imam al-Mustauda’). Tujuan teori ini untuk menutupi kekosongan pimpinan dari garis keturunan Imam Ali ra. yang timbul akibat terdapat kecacatan pada urutan suksesi dalam serangkaian imam. Oleh karena itu, dalam asumsi Syi’ah Isma’iliyah Imam Hasan adalah imam sementara sebab ia melepaskan jabatannya.

Syi’ah Zaidiyah mayoritas berpendapat bahwa imam itu tidak suci (ma’shum) tidak seperti Nabi shallallahu alaihi wasallam yang memiliki sifat ma’shum. Dan ini berbeda dengan ideologi Syi’ah Imamiyah dan Syi’ah Isma’iliyah yang menegaskan bahwa keseluruhan Imam-Imam Sy’iah suci (ma’shum) dari segala perbuatan dosa kecil ataupun besar, baik yang tersurat ataupun yang tersirat, sengaja atau tidak disengaja. Dan juga mereka harus terbebas dari kesalahan bahkan kelupaan dan kelalaian.

Syi’ah Zaidiyah mensyaratkan keabsahan seorang imam melalui revolusi (al-Khuruj) atau boleh kita istilahkan “revolusi pedang”. Revolusi ini melambangkan perjuangan politik Syi’ah Zaidiyah dengan ketegaran dan ketegasan serta penuh keterbukaan. Berbeda dengan aliran Syi’ah lain, – seperti Imamiyah dan Ismaíliyah- di mana perjuangan mereka dengan cara tersembunyi dan terselubung, atau dikenal dengan konsep (Taqiyyah). Dengan sistem revolusi ini, Syiáh Zaidiyah tidak menjadikan Imam Ali bin al-Husein alias Zainal Abidin masuk dalam rangkaian Imam. Sementara Syiáh Imamiyah dan Ismaílyah menjadikan Ali bin al-Hesein sebagai bagian dari silsilah imam mereka.

Konsep revolusi ini telah dirumuskan oleh pendiri Zaidiyah yaitu Imam Zaid, dan sekaligus diaplikasikan dalam kepemimpinannya sendiri untuk memberontak terhadap ketidakadiklan yang berlaku. Maka ia melancarkan revolusi politik terhadap pengusasa ketika itu, meskipun tindakan revolusi tersebut tidak mendapatkan support dari pihak keluarganya, seperti saudara kandungnya Muhammad Baqir, dan Muhammad bin al-Hanafiah. Kedua-duanya menasehati Imam Zaid mengenai bahaya yang akan dihadapinya bila ia meneruskan revolusi tersebut. Namun ia menolak nasehat tersebut, dan pergi ke luar untuk memberikan contoh kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya.

Tindakan ini mendapatkan reaksi berat dari Syiáh Imamiyah dan Syiáh Ismíliyah. Lalu mereka mengkritisi segala bentuk tindakan revolusi yang dikukan oleh para pengikut Imam Zaid setelah kematiannya.

Dapat dilihat, bahwa sikap revolusioner yang dilakukan oleh golongan Syiáh Zaidiyah dengan sendirinya menunjukkan bahwa seorang pemimpin atau kepala negara bukannya orang yang suci (Ma’shum) dan layak dikultuskan, yang tidak terlepas dari kesalahan dan dosa. Sementara bagi Syiáh Imamiyah dan Syiáh Ismaíliyah malah sebaliknya, Imam adalah simbol kesucian (Ma’shum). Maka sistem politik dan pemerintahan mereka dikenal dengan sistem Teokratis. Dan sistem ini telah dikenal sejak zaman mesir kuno, Yunani dan Rumania. Di mana seorang pemimpin negara dimata rakyat meruapakan simbol agama dan dunia sekaligus. Oleh karena itu, bentuk pemerintahan dibungkus dengan keagamaan yang terpatri dalam diri seorang raja. Ia dijadikan sebagai kekuasaan absolut yang tidak boleh dipertanyakan dalam bentuk apa pun. Tidak peduli apakah raja tersebut berlaku adil ataupun tidak. Apakah dia bijak,baik atau jahat. Kesemuanya tidak menjadi masalah, sebab keputusan yang dibuatnya menurut asumsi mereka adalah keputusan Ilahi semata. Dan konsep tersebut diadopsi oleh beberapa sistem pemerintahan yang mengaku diri Islam, dalam istilah yang dikenal dengan sistem “Teokrasi”. Padahal agama Islam sendiri tidak demikian sistemnya, sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Allah ta’ala,

لْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوْحَى إِلَيَّ أنََمَا إَلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيْمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِيْنَ

Yang artinya:

“Katakanlah:”Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya“ (QS (Fushshilat [41]:6)

Namun sangat disayangkan, penetrasi sistem Teokrasi ini lebih dalam daripada penetrasi sistem agama Islam.

Syiáh Zaidiyah membolehkan adanya dua pemimpin utama dalam masa dan waktu yang sama. Hal ini dibolehkan karena sesuai dengan keperluan zaman. Yaitu meluasnya daerah kekuasaan Islam yang terbentang ketika itu dari wilayah Samarqand sampai Spanyol dan selatan Prancis. Dan pandangan ini berlawanan dengan Syiáh Imamiyah dan Syiáh Isma’ilyah. Karena mereka hanya membolehkan adanya satu Imam dalam setiap masa.

Tampak jelas keunikan sistem politik Syiáh Zaidiyah dibandingkan aliran Syiáh imamiyah dan Syi’ah Ismaíliyah. Di mana pengangkatan seorang Imam dilakukan dengan jalan suksesi, yang dalam era politik sekarang dikenal dengan sistem “demokrasi”, yang dilandaskan atas konsep revolusi (al-Khuruj). Hal ini yang memotivasi Syíah Zaidiyah menolak “Taqiyyah,” yaitu perinsip perjuangan politik Syiáh Imamiyah dan Syi’’ah Ismaíliyah yang terselubung dan sembunyi.

Tercatat dalam sejarah politik Islam, Syiáh dari berbagai aliran dan sektenya selalu menjadi partai oposisi, akan tetapi metode yang digunakan oleh masing-masing aliran tersebut bervariasi antara satu sama lain. Syi’ah Zaidiyah memilih oposisi dengan caranya sendiri, yaitu dengan secara nyata dan terang. Namun aliran Syiáh Imamiyah dan Syiáh isma’iliyah lebih memilih berjuang secara rahasia melalui konsepnya “at-Taqiyyah”.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bukannya mengkhawatirkan umatnya berbuat syirik sebagaimana yang dikhawatirkan Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya namun beliau lebih mengkhawatirkan umatnya egois, individualis dan berlomba-lomba dengan kekayaan bumi, harta dunia dan kekuasaan.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Aku lebih dahulu wafat daripada kalian, dan aku menjadi saksi atas kalian, dan aku demi Allah, sungguh aku melihat telagaku sekarang, dan aku diberi kunci-kunci perbendaharaan bumi atau kunci-kunci bumi, demi Allah, saya tidak mengkhawatirkan kalian akan berbuat syirik sepeninggalku, namun yang aku khawatirkan atas kalian adalah kalian berlomba-lomba mendapatkannya.” (HR Bukhari 6102)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Aku lebih dahulu wafat daripada kalian, dan aku menjadi saksi atas kalian, dan aku demi Allah, sungguh telah melihat telagaku sekarang, dan aku diberi kunci-kunci perbendaharaan bumi atau kunci-kunci bumi. Demi Allah, saya tidak mengkhawatirkan kalian akan berbuat syirik sepeninggalku, namun yang justru aku khawatirkan atas kalian adalah kalian bersaing terhadap kekayaan-kekayaan bumi.” (HR Bukhari 5946)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Aku mendahului kalian ke telaga. Lebar telaga itu sejauh antara Ailah ke Juhfah. Aku tidak khawatir bahwa kalian akan kembali musyrik sepeninggalku. Tetapi yang aku takutkan ialah kamu terpengaruh oleh dunia. Kalian berlomba-lomba untuk mendapatkannya kemudian berbunuh-bunuhan, dan akhirnya kalian musnah seperti kemusnahan umat sebelum kalian”. (HR Muslim 4249)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sungguh demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan dari kalian. Akan tetapi yang aku khawatirkan atas kalian adalah bila kalian telah dibukakan (harta) dunia sebagaimana telah dibukakan kepada orang-orang sebelum kalian lalu kalian berlomba-loba untuk memperebutkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba memperebutkannya sehingga harta dunia itu membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka.” (HR Bukhari 2924)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada kaum Anshar, “sepeninggalku nanti, akan kalian jumpai sikap atsarah (sikap egoism, individualisme, orang yang mementingkan dirinya sendiri dan kelompok). Maka bersabarlah kalian hingga kalian berjumpa denganku dan tempat yang dijanjikan untuk kalian adalah telaga al-Haudl (di surga)” . (HR Bukhari 350)

Bagi keselamatan di akhirat kelak, marilah kita taat kepada Allah dan RasulNya. Jauhilah apa yang telah dilarangNya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengatakan, “Apa yang aku perintahkan maka kerjakanlah semampumu dan apa yang aku larang maka jauhilah“. (HR Bukhari).

Dalam menghadapi manusia yang telah bersyahadat berpeganglah dengan apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

Rasulullah bertanya lagi: Sudahkah kamu membelah dadanya sehingga kamu tahu dia benar-benar mengucapkan Kalimah Syahadat atau tidak? Rasulullah terus mengulangi pertanyaan itu kepadaku hingga menyebabkan aku berandai-andai bahwa aku baru masuk Islam saat itu. (HR Muslim 140)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya lagi: ‘Apakah kamu yang telah membunuhnya? ‘ Dia menjawabnya, ‘Ya.’ Beliau bertanya lagi: ‘Lalu apa yang hendak kamu perbuat dengan kalimat, ‘Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah’, jika di hari kiamat kelak ia datang (untuk minta pertanggung jawaban) pada hari kiamat nanti? ‘ (HR Muslim 142)



Wassalam